Allah Maha Menutup Aib, Jangan Diumbar !

Allah Maha Menutup Aib, Jangan Diumbar !
ilustrasi menutup aib

Menutupi aib adalah salah satu dari sifat Allah yang mulia, Allah mencintai bila sifat yang mulia ini pun  tertanam dalam diri hamba-hambanya, sifat menutupi aib diri sendiri maupun menutupi aib orang lain, sebagaimana sabda rasulullah saw;

 

Sesungguhnya Allah ta’ala maha pemalu lagi maha menutupi, dia mencintai (sifat) malu dan menutup (aib, aurat). Maka jika seseorang di antara kalian mandi, hendaklah dia menutup (auratnya)“ (HR. Ahmad)

 

Ada kisah menarik dan masyhur yang dituturkan oleh imam ibnu qudamah dalam kitab Tawwabin atau orang orang yang bertaubat:

 

Pada zaman nabi Musa 'alaihis salam, Bani israil ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka seraya berkata,: "Wahai Musa, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami". Maka berangkatlah nabi Musa 'alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas bersama lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan kondisi yang lusuh penuh debu, haus dan lapar.

 

Musa berdoa, "Wahai Tuhan kami turunkanlah hujan kepada kami, tebarkanlah rahmat-mu, kasihilah anak-anak dan orang-orang yang mengandung, hewan-hewan dan orang-orang tua yang rukuk dan sujud".

 

Selesai berdoa , tak ada tanda tanda akan hujan, langit tetap saja terang benderang, matahari pun bersinar makin kemilau. Kemudian Musa berdoa lagi, "Wahai Tuhanku berilah kami hujan".

 

Allah pun berfirman kepada Musa,; "Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian, sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Keluarkanlah ia di depan manusia agar dia berdiri di depan kalian semua. Karena dialah  Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian ".

 

Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, "Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun, keluarlah ke hadapan kami, karena engkaulah hujan tak kunjung turun".

 

Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri, maka tak seorang pun yang keluar di depan manusia. Saat itu pula ia sadar, kalau dirinyalah yang dimaksud. Ia berkata dalam hatinya, "kalau aku keluar ke depan manusia, maka akan terbuka rahasiaku. Kalau aku tidak berterus terang maka hujan tak akan turun ".

 

Maka kepalanya tertunduk malu dan menyesal, air matanya pun menetes  sambil berdoa kepada Allah, "ya Allah, aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun. Selama itu pula Engkau menutupi aibku, sungguh sekarang aku bertobat kepada-Mu, maka terimalah taubatku".

 

Belum sempat ia mengakhiri doanya maka awan-awan tebalpun bergumpal, semakin tebal menghitam lalu turunlah hujan.

 

Nabi Musa pun keheranan dan berkata, "ya Allah,Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di depan manusia".

 

Allah berfirman, "Aku menurunkan hujan karena seorang hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun".

 

Musa berkata, "ya Allah, tunjukkan padaku hamba yang taat itu".

 

Allah berfirman, "wahai Musa,Aku tidak membuka aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah aku membuka akan aibnya, sedangkan ia taat kepada-ku?!".

 

Betapa Allah swt sangat menjunjung tinggi harga diri seorang hamba. Allah swt tak berkehendak untuk membongkar aib hamba-Nya di depan umum, walaupun Allah maha berkuasa untuk melakukannya. Bahkan saat sang hamba tengah bermaksiat sekalipun Allah tetap menutup aibnya sehingga tak ada seorangpun yang tahu selain dia dan Allah saja.

 

Oleh sebab itu, sangat tak pantas bila kita sebagai hamba-Nya  justru gemar membongkar aib sesema lantas menyabarkannya. Apalagi menjadikannya bahan lelucon dan hinaan. Terhadap perilaku seperti ini  Rasulullah shallAllahu 'alaihi wasallam berpesan,

 

"Wahai orang yang beriman dengan lisannya, tetapi tidak beriman dengan hatinya, janganlah kamu mengumpat kaum muslimin dan janganlah mengintip aib mereka. Maka barang siapa yang mengintip aib saudaranya, niscaya Allah akan mengintip aibnya. Dan siapa yang diintip Allah akan aibnya, maka Allah akan membuka aibnya meskipun dirahasiakan di lubang kendaraannya." (HR. at-Tirmidzi)

 

Sebaliknya, Rasulullah saw memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang menutup aib saudara mereka dalam sabdanya,:

 

"Dan barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah menutup aibnya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)

 

Rasulullah saw memperingatkan pada orang yang mengumbar aib kemaksiatan dirinya kepada orang lain, bahwa ia tak akan diberi ampunan oleh Allah swt,

 

"Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: Wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu –padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya." (HR. Bukhori dan Muslim)

 

keburukan dan kejahatan apapun yang kita lakukan pasti Allah menutupinya dari orang lain... tentu karena menjaga kehormatan manusia. Karena menutup aib memang menjadi sifat Allah yang mulia. Maka jika kita melakukan kesalahan atau dosa tanpa diketahui orang lain, bukan berarti karena kepandaian kita menutupi aib kita sendiri, tapi karena Allah swt Maha Menutup aib.

 

Itulah mengapa, Amirul Mukminin, Umar bin Khattab ra berkesimpulan, bahwa Allah tak akan membongkar aib seorang hamba yang baru pertama kali melakukan suatu perbuatan dosa. Allah akan menutupinya dari pengetahuan orang lain, dengan harapan orang itu segera menyadari kesalahan dan dosanya, tanpa perlu  menaggung malu jika aibnya terbongkar.

 

Atas dasar ini pulalah mengapa Umar ra tidak percaya dengan perkataan seorang pencuri yang tertangkap basah tengah melakukan pencurian. Kala itu sang pencuri ditanya oleh Amirul Mukminin Umar ra, sudah berapa kalikah engkau mencuri?  sang pencuri  menjawab, Ini adalah kali pertamanya dia mencuri, dan sialnya langsung tertangkap.

 

Mendengar jawaban pencuri itu, Umar lantas menyanggahnya. Umar mengaggap pencuri itu berdusta. ini pasti bukanlah kali pertama dia mencuri, sebab umar yakin, bahwa Allah tak akan langsung membongkar aib seorang hamba saat pertama kali ia bermaksiat kepadanya.

 

Dan akhirnya, sang pencuri itu pun mengaku dengan jujur, tindakan pencurian tersebut bukanlah yang pertama kali ia lakukan, melainkan sudah yang kedua puluh kalinya.

 

Wallahu A’lam.