Apakah Shalat Taraweh Termasuk Qiyamullail?

Apakah Shalat Taraweh Termasuk Qiyamullail?

Qiamullail atau shalat malam adalah ibadah yang sangat dianjurkan, apalagi di bulan Ramadhan. Bahkan dalam salah satu hadisnya Rasulullah SAW menyebut orang yang qiamullail di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala akan Allah ampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Disamping sebagai kabar gembira bagi kaum muslim kedahsyatan ibadah qiyamullail di bulan Ramadan ini memunculkan tanya. Apakah shalat tarawih yang biasa dilakukan di malam hari bulan ramadhan juga termasuk qiamullail, ibadah malam?

Semua ibadah di malam hari yang dilakukan kaum muslim pada bulan Ramadan adalah qiyamullail atau ibadah malam, termasuk shalat tarawih. Maka janji yang disampaikan Rasulullah SAW terkait qiamullail atau ibadah malam di bulan Ramadhan semuanya ada di shalat tarawih.

Tarawih dalam bahasa Arab merupakan bentuk plural dari tarwihah yang berarti “waktu sesaat untuk istirahat”.

Istirahat biasa dilakukan dari setiap selesainya empat rakaat. Karena ada banyak jeda istirahat dalam shalat tersebut. Maka mucullah istilah tarawih yang artinya banyak jeda istirahat.

Pelaksanaannya boleh dikerjakan sendiri-sendiri, tapi tentu saja berjama’ah lebih baik. Sunnah berjamaah dalam shalat taraweh ini sudah dilakukan umat Islam sejak masa Rasulullah SAW. Kemudian sempat terhenti dan dilanjutkan lagi oleh khalifah Umar bin Khattab. Umar menunjuk Ubay bin Ka’ab untuk memimpin shalat tarawih.

Diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim bahwa pada suatu malam di bulan Ramadan Rasulullah SAW keluar menuju masjid untuk mendirikan shalat malam. Lalu datanglah beberapa sahabat dan bermakmum di belakang beliau. Ketika shubuh tiba, orang-orang membicarakan hal tersebut, hingga pada malam selanjutnya jumlah jama’ah yang ikut shalat tarawih bertambah banyak. Demikianlah seterusnya hingga tiga malam berturut-turut.

Pada malam keempat masjid menjadi sesak dan tak mampu menampung seluruh jamaah. Namun Rasulullah tak kunjung keluar dari kamarnya hingga fajar menyingsing. Rasulullah baru keluar untuk menunaikan shalat shubuh, selepas itu beliau berkhutbah; “saya telah mengetahui kejadian semalam. Akan tetapi saya khawatir shalat itu akan diwajibkan atas kalian sehingga kalian tidak mampu melakukannya.”

Dengan demikian, shalat tarawih berjamaah sebetulnya sudah ada sejak masa nabi SAW tapi kemudian beliau meninggalkannya khawatir akan menjadi kewajiban bagi umatnya. Ibadah ini kemudian dihidupkan lagi oleh Umar ra karena kekhawatiran akan menjadi kewajiban sudah tidak ada. Karena nabi SAW telah wafat dan syariat telah selesai.

tak ada seorang sahabatpun memprotes inisiatif khalifah Umar ini. Telah terjadi ijma’ atau kesepatakan ulama yang kemudian diikuti oleh ulama-ulama generasi sesudahnya tanpa ada perselisihan. Hal ini memperkuat dalil disunnahkannya shalat taraweh secara berjama’ah.

Lalu kapan waktu terbaik untuk menunaikan shalat tarawih, Apakah sesudah isya’ merupakan waktu terbaik untuk shalat taraweh?

Shalat tarawih adalah qiamullail atau ibadah malam. Maka waktu terbaik untuk shalat tarawih sebetulnya sama dengan waktu terbaik untuk qiamullail. Yaitu pada sepertiga malam terakhir.

Hal ini jika mampu dan yakin akan terbangun pada sepertiga akhir malam dan juga sanggup melakukannya dengan berjama’ah. Inilah sebenarnya waktu yang ideal melakukan shalat taraweh.

Akan tetapi jika tidak yakin bisa bangun malam untuk menunaikan shalat taraweh secara berjamaah maka melakukan taraweh sesudah Isya tidak apa-apa. Apalagi pada waktu tersebut lebih memungkinkan untuk bisa melibatkan banyak kaum muslimin. Karena waktu shalat tarawih sendiri sangat panjang mulai dari sesudah waktu Isya hingga terbitnya fajar yang menandakan masuknya waktu shalat Subuh. 

Shalat qiamullail atau ibadah malam yang dilakukan di sepertiga akhir malam disebut shalat tahajjud. Karena tahajjud secara bahasa berarti bangun dan berusaha meninggalkan tidur. Jadi setiap shalat tahajjud pastilah qiamullail atau ibadah malam dan tidak setiap qiamullail atau ibadah malam itu disebut tahajjud.

Begitu juga dengan shalat tarawih, jika dilakukan disepertiga akhir malam maka ia bisa juga disebut shalat tahajjud.

Ada banyak janji dan pahala yang disediakan oleh Allah Ta’ala bagi hamba-Nya yang melaksanakan shalat tarawih atau qimullail di bulan Ramadhan. Semua keutamaan yang dijanjikan untuk orang melakukan qiamullail atau ibadah malam otomatis juga ditujukan kepada orang yang shalat tarawih. Mulai pahala mendapatkan tempat terhormat, ampunan, manfaat kesehatan, dan lain sebagainya. Namun ganjaran besar tetap diberikan secara khusus bagi orang yang yang menunaikan qiamullail atau ibadah malam di bulan Ramadhan. Rasulullah saw bersabda;

Barangsiapa melakukan shalat malam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Lalu dosa apa saja yang digugurkan, apakah semua dosa?

Tentu semua dosa kecuali dosa-dosa besar. Karena dosa besar membutuhkan taubat khusus. Begitulah penjelasan ulama terkait hadis ataupun ayat yang didalamnya terdapat janji ampunan dosa.

Janji Allah swt ini bersifat umum bagi siapapun yang melakukan qiamullail, baik yang sebelas rakaat ataupun hanya yang satu rakaat seperti shalat witir.

Pengampunan dosa ini terjadi pada setiap malam saat menunaikan shalat. Dengan begitu, perhitungan pahalanya bersifat harian. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sabda nabi SAW;

Umatku telah dikarunia lima hal yang istimewa yang belum pernah diberikan kepada umat-umat sebelum mereka: Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada harum kasturi, Ikan-ikan di lautan memohon ampunan bagi mereka hingga mereka berbuka puasa, Allah menghiasi surganya setiap hari kemudian berfirman: Sebentar lagi hamba-hamba Ku yang shaleh akan diangkat segala kesusahan dari mereka dan mereka akan datang kepadamu, setan-setan yang jahat itu akan dibelenggu supaya tidak dapat bebas menggoda mereka sebagaimana yang biasa mereka lakukan di luar bulan Ramadhan, pada malam terakhir bulan Ramadhan mereka yang berpuasa akan diampuni. Rasulullah saw ditanya, Wahai Rasulullah, apakah malam itu malam lailatul qadar? Rasulullahpun menjawab, bukan! tetapi selayaknya seorang pekerja itu diberikan upahnya apabila telah menyelesaikan pekerjaannya “. (HR. Ahmad)

Wallahu A’lam.