Asal Share = Bohong

Asal Share = Bohong
Ilustrasi : asal share, hoax.

Dalam sebuah hadisnya Rasulullah SAW menyebut orang yang mengatakan apapun yang ia dengar, berarti ia sedang berdusta. Sama halnya dengan orang yang memposting ulang setiap informasi yang dia terima, baik melalui media sosial ataupun yang lainnya. Lengkapnya redaksi hadis ini berbunyi,

Cukuplah bagi orang itu disebut berdusta apabila dia membicarakan setiap yang dia dengar,” (HR. Muslim)

Mengapa hanya memposting ulang disebut pembohong? Karena informasi yang didengarnya atau diterimanya ada yang benar dan salah, dan jika semuanya ia sampaikan lagi ke orang lain, maka diantara yang ia sampaikan ada informasi yang salah, atau kebohongan, meskipun ia tidak bermaksud berbohong. Karena kebohongan adalah menginformasikan tentang sesuatu yang bertentangan dengan yang sebenarnya dan tidak ada persyaratan didalamnya harus dengan sengaja.

Dalam hadis lain Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya berhati-hati terhadap setiap informasi yang disampaikan. Beliau bersabda,

’Sesungguhnya Allah SWT telah mengharamkan durhaka terhadap ibu, mengubur bayi perempuan (hidup-hidup), melarang dari meminta sesuatu yang bukan haknya’ dan beliau SAW tidak menyukai kalian mengatakan ‘katanya, banyak bertanya dan menghambur-hamburkan harta.” (HR. Bukhari)

Rasulullah SAW mengingatkan agar tidak mengatakan sesuatu dari sumber yang tidak jelas, menceritakan dan mencari-cari omongan-omongan orang untuk kemudian dia informasikan. Bahkan sesuatu yang benar tidak selalu harus disebarkan jika ada masalah yang mengancamnya.

Imam Nawawi mengingatkan, seyogyanya setiap orang yang sudah baligh menjaga lisannya dari semua perkataan. Jika dia menganggap di perkataan tersebut ada maslahat barulah ia sebarkan. Jika ternyata antara maslahat dan mudharatnya berimbang maka yang dianjurkan menahan diri.

Nabi SAW mengingatkan: ”Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hal ini tak ada beda antara ucapan dan tulisan, keduanya bernilai sama. Maka bisa kita maknai, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menulis atau memposting yang baik atau diam.

Wallahu A’lam.