Bagaimana Ibadah di Negeri Subtropis?

Bagaimana Ibadah di Negeri Subtropis?
beribadah di negeri subtropis (ilustrasi)

Merujuk ke surah Lukman ayat 29, pada waktu-waktu tertentu Allah berkuasa memasukkan malam ke dalam siang dan demikian sebaliknya, memasukan siang ke ujung malam. Akibatnya, sering di beberapa negara bermusim empat waktu malamnya lebih panjang dari siang dan di negara lainnya justeru siang yang lebih panjang dari malamnya. Lantas, bagaimana saudara-saudara kita melaksanakan shalat dan puasa di sana?!

Di negara tropis, panjang waktu puasanya relatif sama. Tetapi di Eropa barat, kawasan skandinavia, atau di Eropa Timur agak ke utara maka waktu puasanya bisa begitu panjang. Bisa sampai 20 jam.

Bagaimana pula dengan mereka yang berada di sekitar kutub utara dan kutub selatan?! di daerah-daerah tertentu di dinding bumi, matahari kadang terbenam beberapa bulan, dan tak pernah terbit. Begitu sebaliknya, terbit beberapa bulan lamanya, sehingga seakan ia tak pernah terbenam.

 Di negara-negara ini, saat musim dingin tiba, malam harinya begitu pekat. Jarum jam berjalan tertatih-tatih, membeku di belantara waktu. Malam musim dingin di Belanda, Belgia, Luxemburg, menggulung siang hanya menjadi seper sekiannya. Siangnya terasa begitu pendek.

Sebaliknya bila musim panas tiba, maka siangnya lebih panjang dari pada malamnya. Siang yang panjang, panas yang menyengat  tentu amat berat bagi umat Islam di kawasan tersebut untuk berpuasa.

Lalu bagaimana solusinya???

Majelis Majma` al-Fiqh al-Islami dan Hai`ah Kibarul Ulama di Mekkah al-Mukaramah membagi masalah ini menjadi tiga:

 

Pertama, wilayah yang mengalami siang selama 24 jam dalam sehari pada waktu tertentu dan sebaliknya mengalami malam selama 24 jam dalam sehari, maka jadwal puasa dan juga shalat disesuaikan dengan jadwal puasa dan shalat wilayah terdekat dengannya yang masih ada pergantian siang dan malam setiap harinya.

 

Kedua, wilayah yang tidak mengalami hilangnya mega merah (syafaqul ahmar) sampai datangnya waktu shubuh sehingga tidak bisa dibedakan antara mega merah saat Maghrib dengan mega merah saat Shubuh, maka dalam kondisi ini yang dilakukan adalah menyesuaikan waktu shalat `Isya`nya saja dengan waktu di wilayah lain yang terdekat yang masih mengalami hilangnya mega merah maghrib.

 

Ketiga, wilayah yang masih mengalami pergantian malam dan siang dalam satu hari, meski panjangnya siang sangat singkat sekali, atau sebaliknya, maka dalam kondisi ini waktu puasa dan juga shalat tetap sesuai dengan aturan baku dalam syariat Islam//

 

Adapun untuk daerah yang samasekali tidak diketahui waktu fajar dan maghribnya, seperti daerah kutub (utara dan selatan) karena pergantian malam dan siang terjadi enam bulan sekali, maka waktu sahur dan berbuka juga menyesuaikan dengan daerah hijaz atau Makah, Madinah dan sekitarnya.

Jika di Mekkah terbit fajar pada jam 04.30, dan maghrib pada jam 18.00, maka mereka juga harus memperhatikan waktu itu dalam memulai puasa atau ibadah wajib lainnya. Inilah yang difatwakan sebagian ulama.

 

hal ini didasarkan pada hadis nabi saw menanggapi pertanyaan sahabat tentang kewajiban shalat di daerah yang satu harinya menyamai seminggu atau sebulan atau bahkan setahun.

 

Sahabat itu bertanya, “WahaiRrasulullah, bagaimana dengan daerah yang satu harinya atau sehari-semalam  sama dengan satu tahun,, apakah cukup dengan sekali shalat saja”.Rasul menjawab “tidak… tapi perkirakanlah sebagaimana kadarnya (pada hari-hari biasa)”.

[HR. Muslim]

 

Dan demikianlah halnya kewajban-kewajiaban yang lain seperti puasa, zakat dan haji.

 

Dan Allah tidak menjadikan untuk kamu dalam agama untuk kesempitan.” (QS. al-Hajj:7)

Wallahu a’lam.