Inspirasi Tengah Malam, Ibnu Khaldun Mengubah Dunia

Inspirasi Tengah Malam, Ibnu Khaldun Mengubah Dunia
Ilustrasi : ibnu khaldun

Bani salamah, desa kecil yang terletak di sebelah barat laut lembah Baskarah, selatan kota Qantharah di bagian timur Aljazair menjadi saksi peristiwa besar yang mengubah dunia ilmu pengetahuan.

Itu terjadi di tengah malam. Desa Bani Salamah hening di bawah gelapnya malam. Para warga telah menutup pintu pagar desa karena kondisi sedang labil. Keamanan sedang terganggu, sementara Bani Madin, penguasa di Aljazair pada waktu itu tidak mampu mengendalikan situasi. Perang antar kabilah sedang di ambang pintu. Pertikaian-pertikaian di perbatasan tidak pernah berhenti antara Bani Madin dan tetangga-tetangganya dari dinasti Hafsid di Tunisia.

Di sebuah rumah kecil, di salah satu sudut desa, seorang laki-laki tampan berkulit putih, berambut hitam dan bermata tajam berusia sekitar empat puluh lima tahun sedang duduk di atas tikar, menghadap meja kecil. Laki-laki itu tekun memeriksa kertas-kertas yang telah dia tulis. Dia sedang tenggelam memeriksa halaman-halaman akhir dari buku yang baru saja selesai ditulisnya.

Terkadang di bagian tertentu dia menambahkan sebuah kata, dan bagian lain menambahkan sebuah alinea sambil mengamati setiap baris tulisannya. Setelah semuanya selesai dia menuliskan kata kata:

“Aku telah menyelesaikan penulisan juz pertama yang berisi mukadimah, sebelum diperhalus dan diedit selama lima bulan yang berakhir pada pertengahan tahun 779 hijriah. Segala puji bagi Allah. Ditulis pada malam sembilan bulan Jumadil Akhir, oleh hamba Allah yang selalu membutuhkan kasih Tuhannya yang maha kaya dengan kebaikan-Nya, Abdurrahman bin Muhammad bin Kholdun al-Hadhromi, semoga Allah Ta’ala melimpahkan taufik kepadanya.

Inilah kitab Muqadimah, Juz pertama dari tujuh juz dalam kitabnya Al Ibar. Dalam keheningan malam itu Ibnu Kholdun menyelesaikan tulisannya, di desa yang sedang tidur berselimutkan salah satu gunung dari gugusan pegunungan Uras, Aljazair.

Setelah itu dia menuju pembaringan, tanpa ia sadari jika dirinya baru saja mencetuskan ilmu baru dalam pemikiran dunia. Ia langsung membaringkan tubuhnya tanpa menyadari dirinya sedang memulai era baru di bidang ilmu sejarah. Tanpa ia sadar dirinya baru saja menciptakan ilmu baru untuk umat manusia yaitu Ilmu Sosiologi.

Kitab Mukadimah inilah yang kelak membuat dirinya didaulat sebagai bapak Sosiologi dan Sejarah.

Kitab Muqadimah dipandang dunia sebagai karya terbesar dalam filsafat sejarah yang pernah dibuat pikiran manusia sepanjang masa. Orang barat memujinya sebagai pemikir cemerlang yang tak bisa dilampaui siapapun, bahkan Plato dan Aristoteles yang dipuja di barat tak pernah mencapai jenjang yang dicapai Ibnu Khaldun. Buah pikirnya amat berpengaruh dan masih menjadi inspiriasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan di dunia hingga saat ini.

Ibnu khaldun telah meletakkan dasar dasar ilmu pengetahuan modern tanpa ambisi duniawi. Ia telah persembahkan untuk kepentingan manusia dan itu terjadi ditengah malam yang sepi. Sebuah waktu yang hening dan paling jujur pada diri manusia.

Ibnu Kholdun seorang politikus dan petualang jenius. Dia sangat sibuk menceburkan diri dalam urusan negara dan menduduki jabatan-jabatan politik. Namun, di waktu-waktu luangnya dia masih sempat mempelajari hukum Islam hingga menjadi salah seorang tokoh ahli hukum mazhab Maliki.

Maka usai menuliskan buku sejarahnya yang sangat besar itu Ibnu Kholdun kembali meneruskan aktifitas sehari harinya di dunia manusia lagi, dunia ambisi, dunia politik dan kerja keras. Inilah fase kehidupannya di Mesir selama hampir 25 tahun. Fase persaingan sengit dengan para musuh dan lawan. Beberapa kali menduduki jabatan hakim dan beberapa kali didipecat.

Suatu kali juga pernah menjadi Duta Khusus Sultan Mesir untuk menemui penguasa penjajah dari Tatar, Timur Leng, bahkan nyaris saja jatuh di tangan diktator Tatar itu dan akhirnya setelah 75 tahun perjuangan, kekacauan, konspirasi, menantang bahaya dan menulis, ibnu kholdun wafat pada tanggal 17 Maret 1406 Masehi di Kairo.

Riwayat Ibnu Khaldun terdokumentasi dengan amat bagus. Dia juga menulis autobiografi, at-Taʻrīf bi ibn-Khaldūn wa Riħlatuhu Gharbān wa Syarqān atau biografi Ibnu Khaldun dan Petualangannya ke Barat dan Timur. 

Dalam hidupnya, Ibnu Kholdun penuh dengan petualangan, tetapi masa-masa terindah dalam hidupnya adalah lima tahun, waktu menyendiri di desa Bani Salamah, salah satu lembah terindah di dunia. Dan saat-saat paling bahagia dari momen penyendiriannya itu adalah tengah malam, tanggal sembilan Jumadil Akhir, tahun 779 hijriah, saat-saat dirinya menuliskan baris terakhir dari kitabnya Mukadimah Ibnu Kholdun.