Luqman Al Hakim (2), Anak Perlu Belajar Dari Kesalahan

Luqman Al Hakim (2),  Anak Perlu Belajar Dari Kesalahan
Ilustrasi : anak belajar

Banyak nasihat Luqman yang sangat bijak untuk anaknya. Nasihat yang dicatat dalam al Quran
dengan untaian yang mengesankan. Salah satunya disebutkan dalam al Quran,
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan, dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Luqman: 19)
Apa yang buruk dengan suara keledai? Suaranya keras, tidak enak didengar. Serupa dengan
membentak. Tidak patut kita menggunakan suara semacam ini pada saat berbicara, meskipun
kepada anak-anak kita. Bersuara keras tanpa ada maslahat yang memang mengharuskan untuk
keras, terlebih tak enak didengar dan menjengkelkan, menjadikan nasehat yang baik akan terasa
menyebalkan. Apalagi jika itu digunakan untuk menyampaikan larangan, semakin menimbulkan
penolakan.
Apa yang sebenarnya terjadi pada kita? banyak orangtua maupun guru begitu memandang buruk larangan. Seolah larangan itu mematikan sel-sel otak dan bahkan jutaan sel pula, sehingga kita meninggalkan apa yang justru ada contohnya dari generasi terbaik nabi SAW.
Kita menganggap larangan itu sebagai penghambat pendidikan. Padahal masalahnya lebih kepada bagaimana kita seharusnya melarang, serta suara yang kita gunakan saat menyampaikan larangan.
Apakah dengan demikian kita merdeka untuk menghujani anak dengan berbagai larangan? tidak
juga. Sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah sunnah Rasulullah
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa sallam. Maka pada dua perkara inilah kita mengacu, melihat
contoh dan berusaha mengilmui prinsip-prinsipnya.
Kita menyampaikan larangan, perintah maupun nasehat. Berisi pertimbangan kepada anak untuk
mengokohkan kebaikan, maupun meluruskan kesalahan.
Inilah yang perlu kita gali dan pelajari agar dapat mendidik anak dengan baik. Kita perlu belajar
untuk menakar tindakan, tidak tergesa-gesa dalam bertindak, agar tidak keliru mencela di saat harus memberi penghargaan, atau sebaliknya.
Sesungguhnya setiap anak lahir dengan dorongan berbuat baik. Ia mencintai kebaikan dan secara naluri ingin menjaga diri dari keburukan. Tetapi pada saat lahir mereka belum mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan. Orangtuanyalah yang keliru memberi tepuk tangan pada keburukannya, sehingga anak justru bersemangat mengulangi. Sementara saat berbuat baik kita kadang justru mengabaikannya, sehingga anak enggan melakukannya lagi.
Hanya gara-gara berbuat baik pada adiknya di waktu yang tidak tepat, mata kita melotot dan tangan kita segera memberi pesan pada lengannya dengan sebuah cubitan yang membuatnya meringis kesakitan. Padahal yang seharusnya kita lakukan adalah memuji iktikadnya dan meluruskan tindakannya, bukan menyalah-nyalahkan. Apalagi mempersalahkan. Sebab setiap anak pada dasarnya tidak mau disalahkan dan dicela, apalagi dipermalukan. Tetapi, mereka akan senang apabila dihargai dan ditunjukkan apa yang lebih baik bagi mereka.
Apakah ini berarti kita tidak boleh menunjukkan kesalahan anak? bukan begitu. Jika kita tidak
menunjukkan kesalahan anak, mengajari anak untuk menyadari kesalahannya, dan selanjutnya berani mengakui kesalahannya, mereka justru dapat berkembang menjadi pribadi yang rapuh, tidak tahan kritik. Bahkan menerima teguran yang tak seberapa sekalipun, membuatnya tersinggung dan meradang. Padahal sebagai muslim, kita dituntut untuk saling menasehati, saling mengingatkan dalam kebenaran, mengoreksi yang salah dan bahkan nahy munkar atau mencegah kemungkaran.
Jika anak-anak tidak dididik untuk menerima dan mengakui kesalahannya, maka sulit sekali mereka menerima teguran dari sesama muslim yang paling halus sekalipun.
Alangkah banyak kemajuan yang justru bersumber dari kesediaan menerima dan mengakui kesalahan, lalu dengan itu memperbaikinya. Sangat berbeda menyalah-nyalahkan dengan menunjukkan kesalahan. Adakalanya kita bahkan perlu mengingatkan anak terhadap kesalahannya.
Terutama untuk anak yang sudah beranjak besar. Mereka mulai mengerti; mampu membedakan
benar dan salah dengan akalnya.
Tentu ada kesalahan yang hanya patut kita sampaikan kepada anak, tanpa diketahui orang lain. Ini merupakan kesalahan yang apabila disampaikan di depan anak-anak yang lain akan menjadi aib baginya, sehingga jika orangtua maupun guru melakukannya dapat membangkitkan dendam pada diri anak. Yang demikian ini merupakan salah satu penyebab kenakalan anak.
Sulit bagi anak untuk menerima kesalahan, bahwa dirinya melakukan kesalahan, jika kita menyampaikannya dengan nada mencemooh. Sulit pula bagi anak mengakui kesalahan jika kita tidak membiasakannya menerima kritik. Hanya memuji tanpa memberikan koreksi justru dapat menjadikan anak mudah tersinggung jika ditunjukkan kesalahannya. Begitu pula jika anak terlalu sering memperoleh kritik. Hal yang sama –sulit menerima kritik dan koreksi—jika mereka sangat jarang menerima perintah dan larangan.
Jika kita ingin mengantarkan anak-anak agar dapat menundukkan hatinya di hadapan Allah SWT
maka yang perlu kita ingat bahwa bentuk ujian yang paling nyata dari Allah Ta’ala kepada manusia
adalah perintah-perintah serta larangan-larangan. Tidak bernilai amal dan ibadah kecuali yang
benar-benar dilakukan ikhlas, semata mengharap ridha Allah Ta’ala. Tetapi ikhlas bukan berarti
ringan di hati, berat hati, tapi tetap melaksanakan demi memperoleh ridha Allah Ta’ala.
Demikian pula dalam menjauhi apa yang dilarang, maka itulah ikhlas. Dan kita sebagai orangtua
perlu menyiapkan ruhani anak agar tidak merasa terganggu “haknya” oleh perintah-perintah serta larangan-larangan. 
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami
hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan
melihat.” (QS. al-Insan: 2).
Meskipun demikian, terlalu banyak memberikan perintah dan larangan, tanpa memberi kesempatan untuk berbincang bersama, maupun bertukar pikiran dapat menjadikan kehilangan inisiatif-inisiatif produktifnya. Sesungguhnya segala sesuatu yang melampaui batas akan keluar dari kebaikan.


Wallahu A’lam.
BERSAMBUNG...