Nabi pun Diterpa Hoax

Nabi pun Diterpa Hoax
ilustrasi sumber wikipedia

Di masa Rasulullah SAW kaum muslim pernah tertimpa musibah berita bohong atau hoax yang
sangat berbahaya.
Kejadiannnya bermula dari masuk Islamnya Harits bin Dhirar al-Khuza’i, seorang pemimpin suku Bani Musthalik.
Saat itu, Haris mendatangi Rasulullah. Beliau lalu menyeru saya masuk Islam dan saya menyambutnya. Setelah itu beliau menyeru saya untuk membayar zakat dan saya pun langsung
menyetujuinya. Saya pun meminta izin, ‘Wahai Rasulullah, izinkan saya kembali ke tengah-tengah kaum saya agar saya dapat menyeru mereka kepada Islam dan menunaikan zakat. Bagi mereka yang memenuhi seruan saya maka saya akan mengumpulkan zakat mereka. Setelah itu, hendaklah engkau mengutus seorang utusanmu ke Iban, dan di sana saya akan menyerahkan zakat yang terkumpul tersebut.”
Setelah Harits menghimpun zakat dari kaumnya, ia lalu berangkat ke daerah Iban. Akan tetapi,
sesampainya di sana ternyata ia tidak menemukan utusan Rasulullah. Harits lantas menyangka
bahwa telah terjadi sesuatau yang membuat (Allah dan Rasulullah) marah kepadanya. Maka Haris memutuskan untuk menemui Rasulullah di Madinah.
Di waktu yang sama, sebenarnya Rasulullah telah mengutus Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat dari kaumnya Harits seperti yang telah disepakati. Namun, ketika baru berjalan beberapa lama, muncul perasaan takut pada diri utusan Nabi bernama Walid ini. Karena dulunya ada perselisihan antara dirinya dan kaumnya Haris, sehingga ia pun kembali pulang ke Madinah) dan melaporkan kebohongan kepada nabi saw, ”Sesungguhnya Harits menolak untuk menyerahkan zakat yang dijanjikannya. Bahkan ia juga bermaksud membunuh saya.”
Mendengar kabar ini, Nabi mengutus utusan untuk mengecek informasi ini. Ketika melihat utusan
Nabi SAW, Harits dan kaumnya dengan cepat menghampiri dan bertanya, ”Kemana kalian diutus?”.
Utusan Rasulullah itu menjawab,”Kepadamu”. Harits bertanya,”Kenapa? Mereka menjawab,
”Sesungguhnya Rasulullah telah mengutus Walid bin Uqbah kepadamu, akan tetapi ia melaporkan bahwa engkau telah menolak menyerahkan zakat dan juga bermaksud membunuhnya.”
Harits kaget dan segera menemui Rasulullah. Melihat kedatangan Haris Rasul bertanya, “Apakah engkau memang menolak untuk menyerahkan zakatmu dan juga bermaksud membunuh utusan saya?” Haris menjawab, “Demi Zat yang mengutus engkau dengan membawa kebenaran, saya tidak pernah melakukannya.” Tidak lama berselang turunlah ayat, 
“Wahai orang-orang yang beriman!, jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”(QS. al-Hujurat: 6)
Ayat ini memberikan panduan pada kita bagaimana cara menerima informasi yang tepat dan benar.
Yaitu dengan cara tabayyun atau klarifikasi, memastikan informasinya. Semakin penting informasi bisa menimbulkan dampak lebih luas, maka semakin penting untuk tabayyun atau klarifikasi. Dalam ayat ini terdapat dua pedoman;

Pertama, kasus khusus, yaitu tentang kebohongan al-Walîd dan sunnah tabayyun atau klarifikasi, meneliti kabar dari Rasûlillâh SAW. Jika tidak menelitinya bisa berakibat vonis murtad, peperangan dan pembunuhan.
Kedua, Indikasi umum yang terkandung dalam dua kata bernada muthlak pada ayat ini adalah kata “fâsiq” dan “naba` atau berita.
Fâsiq disini berkaitan dengan kualitas pembawa berita. Dalam istilah ahli hadits disebut “rijâl” atau “sanad”. Sedangkan “naba’`” yang berarti masalah penting atau berita penting. Dalam istilah ahli hadits disebut matan atau substansi berita.
Oleh karena itu ayat ini dalam tradisi keilmuan Islam menginspirasi metode ilmu seleksi hadis.
Cara check dan recheck yang sangat akurat dilakukan ahli hadis kemudian melahirkan ilmu jar-h wa ta’dil atau check and recheck sumber dan substansi hadis. Ilmu hadis inilah yang kemudian menjadi ilmu paling akurat dalam sejarah ilmu pengetahuan di dunia.
Andai kita memanfaatkan metode ini untuk menerima informasi, tentu kita dengan mudah
menyeleksi informasi, apakah benar atau hoax. Maka jika jika pembawa beritanya tidak jelas,
sumbernya tidak jelas, apalagi ditunjang dengan isi beritanya yang menyesatkan maka jangan mudah menelan mentah-mentah berita itu. Karena hal itu bukan masalah sederhana.
Allah swt mengingatkan dalam firman-Nya:
“(Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan
dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh,
padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.”(QS. an-Nur: 15)


Wallahu A’lam...