Ramadan Tiba, Bolehkah Menetapkan Niat Langsung untuk Puasa Sebulan Penuh?

Ramadan Tiba, Bolehkah Menetapkan Niat Langsung untuk Puasa Sebulan Penuh?

Ramadan Tiba, Bolehkah Menetapkan Niat Langsung untuk Puasa Sebulan Penuh?


Alhamudulillah kita telah memasuki bulan Ramadan dan mendapat kesempatan beribadah di bulan
mulia ini, sekalipun dalam kondisi darurat covid 19.
hal pertama yang harus menjadi perhatian di awla bulan suci ini adalah niat. Karena niat inilah kualitas
puasa Ramadan, bahkan menjadi kunci sah tidaknya ibadah puasa Ramadan.
Itu sebabnya di masyarakat, kita sering dianjurkan untuk membaca niat puasa untuk satu bulan penuh.
Bahkan niat ini biasa dibaca setiap selesai taraweh setiap hari.
Pertanyaannya, apakah niat puasa untuk sebulan penuh itu dibenarkan dalam syariat agama?
ada satu pendapat dari imam Malik rahimahullah bahwasanya tidak ada yang salah dengan niat puasa
untuk satu bulan penuh, tanpa harus melakukannya tiap malam. Sebab niat itu tidak perlu dilakukan
tepat sesaat sebelum melakukan pekerjaan.
Akan tetapi, akan ada resiko yang harus ditanggung ketika melakukan niat puasa seperti ini. Jika suatu
hari di tengah puasanya dalam satu bulan itu batal, maka secara otomatis niat puasa yang dilakukan
untuk satu bulan itu menjadi batal pula.
Hal ini diibaratkan seperti puasa untuk membayar kafarat atau tebusan yang disebabkan karena
pelanggaran pasangan suami istri melakukan hubungan badan di bulan Ramadhan. Maka hukumannya
harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut.
para ulama sepakat, jika seseorang melakukan puasa untuk membayar kafarat atau tebusan selama dua
bulan berturut-turut, saat puasanya batal satu hari di pertengahan maka puasa di hari-hari sebelumnya
pun batal pula. Inilah resiko jika kita melakukan niat paketan, atau satu niat untuk puasa sebulan penuh.
Berbeda halnya jika melakukan niat puasa Ramadhan dengan satu hari satu niat. Jika suatu hari
mengalami sakit atau safar, kemudian batal puasanya, maka tidak membatalkan puasa di hari-hari
sebelumnya.
Inilah alasan jumhur atau mayoritas ulama agar niat puasa itu sebaiknya dilakukan satu hari satu niat
tersendiri, agar tidak mempengaruhi puasa yang satu dengan yang lainnya.
Perlu dipahami, niat adalah menyengaja di dalam hati yang seiring sejalan bersama amal ibadah itu
sendiri.
Tanpa niat, ibadah seseorang tidaklah sah. Maka seseorang yang hendak berpuasa harus melakukan
tabyitunniyah atau meniatkannya sejak malam.
Banyak jenis puasa yang biasa diamalkan oleh umat muslim, seperti puasa wajib di bulan Ramadhan,
bermacam-macam puasa sunnah, mengqodho atau mengganti puasa Ramadhan dan sebagainya//
oleh karena itu niat dari tiap ibadahnya pun berbeda-beda. Maka sebaiknya niat dilakukan secara
spesifik.

Misalnya niat puasa Ramadhan, jika dilafalkan berbunyi:
“Nawaitu sauma ghodin ‘an adaa'i fardhi syahri Romadhoona haadzihissanati lillahi ta ‘aalaa”
“Aku niat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa pada bulan Ramadhan tahun ini karena
Allah ta'alaa".
Lafal niat ini jelas disebutkan dalam niat puasa tersebut secara detil, dari jenis ibadahnya, kapan
dilaksanakan dan sifat ibadahnya wajib ataukah sunnah. Sehingga akan berbeda penyebutan niat puasa
Ramadhan dengan puasa lainnya.
namun niat melakukan ibadah berbeda dengan melafazkan niat. Seseorang mungkin saja berniat
berpuasa untuk esok hari, tapi lidahnya tidak melafazkan niat. Sebab niat letaknya bukanlah di lidah
melainkan di dalam hati.
Namun terkadang niat sulit untuk ditanam dalam hati karena mungkin terlalu panjang. Sehingga para
ulama mahzab Syafi’i memberikan solusi untuk mempermudah melakukan niat, yaitu dengan
melafazkannya.
Bagi muslim di Indonesia yang bermazhab Safi’I memang sudah terbiasa dengan melafalkan niat di
setiap ibadah, termasuk melafalkan niat ibadah untuk satu bulan langsung. Bahkan dibimbing imam di
masjid masjid. Khususnya setiap selesai shalat taraweh. Hal ini membuat masyarakat awam merasa lebih
lebih mantap dan lebih yakin bahwa dirinya sudah melakukan niat.
Meskipun sebenarnya Rasulullah tidak mengajarkan hal yang seperti ini. Namun bukan berarti ini
menjadi haram. Dalam mahzab Syafi’i melafalkan niat hukumnya sunnah. Di sisi lain ada sebagian
kalangan yang menganggapnya makruh.
Namun ini adalah perbedaan diantara para ulama, melafadzkan niat itu bagian dari menguatkan niat
yang ada di hati.
Pertanyaannya kemudian adalah bukankah dengan makan sahur sebenarnya seorang muslim itu telah
meniatkan untuk melakukan puasa? / artinya tak perlu lagi mengucapkan niat.
Orang yang makan sahur boleh jadi dia memang sudah berniat puasa. Tapi bisa juga tidak, karena bisa
saja ia hanya kelaparan dan ingin makan dan belum tentu hatinya berniat untuk berpuasa. Sehingga
tidak bisa dikatakan bahwa orang yang bangun sahur pasti sudah berniat puasa.
Hal ini diibaratkan seperti seseorang yang berniat pergi haji, jika suatu hari ia memiliki uang yang cukup.
Tetapi itu bukanlah niat yang spesifik, itu hanya seperti rencana. Karena niat haji yang spesifik adalah
ketika seseorang berada di miqot dan melafazkan niat haji.
Sama halnya dengan orang yang makan sahur, akan dianggap niat puasa jika setelah makan sahur,
kemudian berniat untuk berpuasa secara spesifik. Karena bisa jadi niat puasanya bukan untuk puasa
Ramadhan, tapi untuk puasa yang lain.
Rasulullah Salallahu Alaihi Wassallam bersabda:
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia
niatkan.. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist ini memberikan pelajaran pada kita bahwa niat adalah rukun dalam setiap ibadah mahdoh.
Dalam hal puasa Ramadhan, wajib hukumnya tabyitun niah atau meniatkan puasa esok hari sejak malam. Wallahu A’lam.