Shalat Arba'in di Madinah, Apakah Disyariatkan?

Shalat Arba'in di Madinah, Apakah Disyariatkan?

Pada umumnya, para jamaah haji Indonesia dijadwalkan untuk mengunjungi kota Madinah sebelum atau sesudah penyelenggaraan ibadah haji. Para jamaah sangat antusias berkunjung ke Madinah, meski ziarah ini tidak ada hubungannya dengan ibadah haji. Hal ini tidak aneh, karena Madinah memiliki kedudukan yang tinggi dalam sejarah Islam. Ke tempat inilah Nabi Muhammad SAW berhijrah untuk kemudian menghabiskan umur beliau dalam menyemai dakwah Islam. Setelah waatnya pun beliau dimakamkan di tempat ini.

Meski ibadah haji tetap sah tanpa ziarah ke Madinah, para jamaah haji selalu merasa ada yang kurang jika tidak berkunjung ke kota Nabi SAW. Di antara ibadah yang biasa dilakukakan para jamaah haji Indonesia selama di kota ini adalah shalat Arba’in di masjid Nabawi.

Maksud shalat Arba’in di sini adalah melakukan shalat fardhu empat puluh waktu di masjid Nabawi secara berturut-turut, dan tidak ketinggalan takbiratul ihram bersama imam. Para jamaah haji meyakini bahwa amalan ini akan membuat mereka terbebas dari neraka dan kemunafikan. Karenanya jamaah haji Indonesia dan banyak negara lain diprogramkan untuk menginap di Madinah selama minimal 8 hari agar bisa menjalankan shalat arba’in.

Hal ini berdasarkan pada hadits dari Anas bin Malik bahwa Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- bersabda:

 “Barang siapa shalat di masjidku empatpuluh shalat tanpa ketinggalan sekalipun, dicatatkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari siksaan dan ia bebas dari kemunafikan.” (HR. Ahmad dan Thabrani)

Sekalipun hadits ini dihukumi shahih oleh beberapa ulama, seperti al-Mundziri, al-Haitsami dan Hammad al-Anshari, namun amalan dengan pahala sebesar ini tidak populer di kalangan sahabat Nabi SAW. Itu pun hanya diriwayatkan oleh satu sahabat. Lalu oleh satu tabi’in yang tidak dikenali, dan tidak memiliki riwayat sama sekali.

Terlepas dari derajat hadis anjuran shalat Arba’in.., fenomena praktek shalat Arba’in di masjid Nabawi perlu mendapat perhatian khusus;

Pertama, kadang-kadang terjadi pelanggaran sunnah yang sudah jelas untuk mengejar pahala amalan yang masih diperselisihkan ini. Saat musim haji, di masjid Nabawi kita bisa dengan mudah melihat banyak orang yang berlarian saat mendengar iqamat dikumandangkan. Hal ini mereka lakukan untuk mengejar agar tidak tertinggal takbiratul ihram bersama imam. Padahal Nabi –Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam- memerintahkan kita untuk mendatangi masjid dengan tenang, dan melarang kita untuk tergesa-gesa saat hendak shalat. Beliau bersabda:

“Jika kalian mendengar iqamat, berjalanlah untuk shalat dengan tenang dan wibawa, jangan terburu-buru, shalatlah bersama imam sedapatnya, dan sempurnakan sendiri bagian yang tertinggal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, sebagian jemaah haji tidak lagi bersemangat untuk shalat di masjid Nabawi setelah menyelesaikan shalat Arba’in. Hal ini bisa mudah dilihat di penginapan jamaah haji menjelang kepulangan dari Madinah. Panggilan adzan yang terdengar keras dari hotel-hotel yang umumnya dekat dari masjid Nabawi kurang mendapat perhatian sebagaimana hari-hari sebelumnya saat program Arba’in belum selesai. Padahal, semestinya stelah terbiasa dengan shalat Arb’in, berjmaah selama empat puluh waktu berturut turut, jamaah sudah terbiasa dengan shalat fardhu berjamaah, tanpa ketinggalan, termasuk setelah tiba di tanah air.

Adakah ini karena keyakinan, bahwa mereka telah bebas dari neraka dan kemunafikan setelah menyelesaikan program Arba’in di Madinah?

Jika demikian, maka amalan yang masih diperselisihkan ini kurang memberikan dampak baik atau dipahami secara salah. Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim, salah satu ulama yang ikut menshahihkan amalan ini mengatakan, “Perlu diketahui, bahwa tujuan dari Arba’in adalah membiasakan dan memompa semangat shalat berjamaah. Adapun jika setelah pulang haji orang meninggalkan shalat berjamaah dan meremehkan shalat, maka ia sungguh telah kembali buruk setelah sempat menjadi baik.”

Ketiga, barangkali ada jamaah haji yang memaksakan diri untuk tetap shalat di masjid Nabawi saat sedang sakit keras, demi mengejar keutamaan shalat arba’in. Semangat ibadah tentu sangat dianjurkan. Namun jika sampai membahayakan kesehatan, maka hal ini menjadi tidak boleh. Dalam beberapa kasus, sebagian jemaah haji menforsir tenaga secara berlebihan selama perjalanan haji adalah salah satu faktor penyebab banyaknya kematian para jamaah haji. Sayangnya hal ini kadang terjadi dalam ibadah yang bukan inti haji. Akan tetapi ibadah ibadah biasa, seperti mengulang-ulang umrah saat di Makkah. Sehingga sebagian jamaah justru jatuh sakit saat ketika ibadah utama haji tiba waktunya. Yaitu saat waktu wuquf di Arafah, karena sebelumnya tenaganya sudah terforsir untuk ibadah-ibadah seperti ini.

Wallahu A’lam.

Tim Redaksi Suarmedia