Tips Menggandakan Amal di Bulan Suci

Tips Menggandakan Amal di Bulan Suci

Tips Menggandakan Amal di Bulan Suci 

Ramadhan merupakan momen terbaik untuk menyemai benih-benih amal, demi meraih surga-Nya dan bersua dengan-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai. Ada banyak janji, ada banyak iming-iming pahala untuk setiap amal sholeh. Tidak hanya satu atau dua amal sholeh yang dijanjikan balasan berlipat, namun hampir semuanya memiliki efek yang menggandakan pahala. Ini tentu sebuah berita gembira. 

Tapi di sisi lain juga menimbulkan dilema, karena tidak satupun dari kita yang akan mampu melakukan seluruh amalan-amalan tersebut dengan sempurna. Sebagaimana ungkapan ibunda ‘Aisyah Radhiallaahu ’Anha;

“Siapakah di antara kalian yang mampu melakukan apa yang mampu dilakukan oleh Rasulullah ?”(HR. Muslim)

Belum lagi kondisi, situasi, dan kemampuan masing-masing kita yang akan melahirkan perbedaan kemampuan dalam memaksimalkan ibadah, khususnya yang sunnah. Hal ini menuntut kita untuk mampu mengatur ibadah sunnah agar menghasilkan pahala yang maksimal, sesuai kemampuan dan keluangan setiap pribadi muslim. 

lalu bagaimana caranya memaksimalkan ibadah di tengah keterbatasan ini? 

Ramadan memang kesempatan emas, karena semua kebaikan bisa berlipat ganda. Sementara ibadah itu sangat banyak. Apalagi kondisi wabah seperti saat ini. Maka perlu strategi dan cara untuk meraih amalan secara maksimal.

Tips pertama adalah keikhlasan. Keikhlasan selain menjadi syarat diterimanya sebuah amal, ia juga menjadi faktor pengganda balasan pahala dari Allah Azza wa Jalla. Allah Ta’ala berfirman;

“…dan Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang dia kehendaki…” (QS. al-Baqarah: 261)

Pada ayat ini sebelumnya dijelaskan tentang keutamaan berinfak dan pahala berlipat ganda yang diperoleh orang yang berinfak di jalan Allah, yang kemudian Allah tutup dengan ayat ini. Artinya selain pahala 700 kali lipat yang dijanjikan di ayat sebelumnya, masih ada peluang untuk bertambah lagi dengan janji Allah di penutup ayat ini.

 Imam ibnu katsir menjelaskan bahwa seberapa banyak dilipatgandakannya akan bergantung pada tingkat keikhlasannya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan imam Muslim, Rasulullah saw bersabda;

“Barangsiapa berpuasa sehari fii sabiilillaah (di jalan Allah), maka Allah akan menjauhkan wajahnya (dan seluruh raganya) dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa termasuk dalam cakupan makna fii sabiilillaah atau di jalan Allah dalam hadits ini adalah ikhlas karena Allah semata”.

Kedua, memasang tekad yang kuat dan niat yang sungguh-sungguh untuk melaksanakan ibadah-ibadah yang dianjurkan di bulan Ramadhan, meski terhalang oleh kelemahan fisik dan kekurangan harta. Seperti berangan-angan dan bertekad agar bisa melaksanakan umroh saat Ramadhan, atas dasar keyakinan akan janji Rasulullah saw dalam sabdanya kepada Ummu Sinaan Al-Anshoriy Radhiallaahu’anha;

“Jika telah tiba Ramadhan, maka umrah-lah. karena sesungguhnya umrah di bulan tersebut sama pahalanya dengan menunaikan haji.”(HR. Bukhari dan Muslim)

jika tekad dan niat itu akhirnya tidak terlaksana karena satu atau lain hal, maka Insya Allah kita tetap meraih pahala niatnya, sesuai kadar kekuatan tekad dan harapan yang bersemayam di dalam hati.

Tips ketiga, masih berhubungan dengan pekerjaan hati; yaitu senantiasa mengikrarkan niat di dalam hati pada setiap amal atau pekerjaan yang dilakukan, dengan niat ibadah demi mengharapkan ridha Allah.

Jangan anggap sepele hal seperti ini. Coba bayangkan! hanya dengan tidur di siang hari, namun dengan niat agar bisa khusyu’ mengerjakan tarawih di malam hari, sudah mendapatkan pahala tersendiri dari tidur siangnya. Tapi tanpa menghadirkan niat karena Allah maka tidurnya tidak berpahala.

Inilah keajaiban niat. Amalan hati yang tidak membutuhkan keletihan fisik untuk menunaikannya. Tidak sedikitpun gerak anggota badan dilibatkan dalam urusan niat. Namun demikian, niat itu merupakan ruh bagi setiap amal. 

Keikhlasan merupakan syarat penentu diterima tidaknya suatu amal oleh Allah, sebagaimana ia juga menjadi pembeda derajat para hamba dalam rapor amal mereka.

inlah yang dilakukan para genrasi terbaik terdahulu, para ulama senantiasa meniatkan setiap gerak dan amal anggota badan mereka agar bernilai ibadah dan mendatangkan pahala. Saat tidur, mereka niatkan karena Allah. Demikian pula saat makan, minum, berjalan kaki, menaiki kendaraan, berbicara, diam, semuanya diniatkan sebagai bentuk sarana pengabdian dan taqarrub kepada Allah. Dahulu pernah dikatakan kepada salah seorang ahli hadis ‘Umar bin Dzar Rahimahullaah.

“Bicaralah wahai ‘Umar! lantas beliau mengatakan, “Niat untuk berbicara yang bernilai ibadah belum hadir pada diriku.” 

salah seorang ulama genarasi Tabi’in, Ja’far bin Hayyan Rahimahullaah mengatakan, “Niat adalah penentu amalan, karena sesungguhnya dengan niat tersebut seseorang mampu mencapai sesuatu di sisi Allah apa yang tidak mampu ia capai dengan amalannya”.

Tips berikutnya masih berkaitan dengan niat. Kumpulkanlah sebanyak mungkin niat baik dalam satu amal atau pekerjaan. Karena semakin banyak niat yang baik dalam suatu amalan, maka semakin banyak pula pahalanya. Inilah yang ditegaskan oleh ulama, karena dengan demikian ia akan memperoleh untuk setiap niat pahala tersendiri.

Wallahu A’lam.

 

>>>>>>>>>>>>>>>>>>