Waspadai Mudah Menuduh Sesat dan Kafir, Bisa Berbalik

Waspadai Mudah Menuduh Sesat dan Kafir, Bisa Berbalik
Ilustrasi

Banyak orang menuduh orang lain dengan tuduhan sesat, kafir  atau fasik. Ada orang yang mengutuk orang lain, padahal belum tentu orang yang dikutuk itu melakukan perbuatan yang kita tuduhkan.

Dan masih banyak tindakan yang kita anggap tidak terlalu beresiko pada diri sendiri padaha jika yang dituduhkan itu tidak benar dosanya akan berbalik pada diri kita sendiri. Dosa itu bisa memantul dan berbalik kepada kita sendiri.

Menjadi seorang muslim merupakan sebuah nikmat terbesar sekaligus tanggung jawab untuk mampu menghadirkan Islam dalam disetiap lini kehidupan. Di kantor, di jalan, di rumah dan dilingkungan tempat tinggal. Islam sejatinya adalah jalan hidup, mencakup keyakinan, ucapan dan perbuatan.

 

Oleh sebab itu, Allah selalu mengingatkan orang beriman agar tidak terjebak dalam perbuatan yang bisa membuatnya kafir dan keluar dari Islam. Meski begitu, Allah Ta’ala juga mengingatkan agar tak mudah mencap kafir kepada orang muslim, meskipun dia bermaksiat dan melakukan banyak dosa. Apalagi jika tuduhan tersebut terselubung kepentingan duniawi. Allah swt mengingatkan dalam firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. An Nisa : 94)

Menuduh kafir fasik atau murtad bisa menjadi bentuk kebohongan atas nama Allah. Karena pada hakikatnya label kafir dan sesat adalah dari Allah swt. Jika seorang muslim secara sembarangan menuduh muslim lainnya dengan sebutan kafir, fasik ataupun sejenisnya maka orang ini sama saja bersikap lancang terhadap Allah Ta’ala.

Perlu diperhatikan, vonis atau label kafir itu resikonya tidak main main, dia bisa memantul. Artinya jika tuduhannya tidak benar, dosanya akan kembali kepada orang yang menuduh. Inilah yang diinformasikan Nabi Saw dalam sabdanya,

Janganlah salah seorang dari kalian menuduh saudaranya dengan sebutan fasik atau kafir. Jika saudaranya tidak seperti yang dituduhkan maka tuduhan itu akan kembali kepada dirinya sendiri. (HR. Bukhari)

Dalam menjelaskan hadis ini para ulama mengatakan, jika orang yang dituduh ternyata  betul-betul layak dikategorikan seorang kafir menurut syariat maka yang menuduh terbebas dari dosa. Tapi jika yang dituduh kafir itu tidak seperti yang ia tuduhkan maka ia akan mendapat dosa dan kehinaan.

Makna lain dalam hadis ini adalah jika ia serius dan meyakini  tuduhan tersebut maka bisa jadi kekafiran itu akan balik kepada dirinya, atau jika dikhawatirkan ia terbiasa dengan menuduh dan menvonis yang pada akhirnya bisa menjadikan ia kafir.

Yang jelas pesan hadis ini begitu jelas, agar kita berhati-hati dan tidak mudah menuduh orang lain dengan tuduhan kafir, tuduhan sesat dan sejenisnya.

Ada perbedaan mendasar antara mengkategorikan perbuatan tertentuitu  kafir dengan menjatuhkan vonis kafir pada seseorang. Perbuatan yang termasuk kategori kafir telah jelas dan gamblang dipaparkan dalam al Quran dan Hadis Nabi Saw.

Tapi menuduh  kafir atau murtad pada seorang muslim bukan masalah ringan, bukan masalah sederhana, ini masalah serius. Perlu ada prosedur yang diperhatikan dan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Misalnya, perbuatan tersebut dilakukan dalam keadaan tahu dan sadar, tidak dalam tekanan dan paksaan pihak lain, bukan karena salah mentakwil atau menafsirkan atau karena ketidak sengajaan.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah apakah orang yang menuduh sudah memberikan penjelasan dan argumentasi atas tindakan yang disebutnya kafir itu atau belum?! jangan sampai karena perbedaan pandangan politik, perbedaan kelompok, perbedaan ormas dan perbedaan mazhab dijadikan alasan menuduh muslim lain dengan tuduhan fasik, apalagi menuduh kafir.

Fenomena saling menghujat hingga menuduh kafir saat ini begitu mudah kita jumpai. Apalagi perkembangan media sosial yang demikian pesat. Orang begitu gampangnya  mengumbar tuduhan sesat, munafik, kafir  terhadap orang  yang tidak sependapat  dan sepaham.

Wallahu A’lam.